jalan-jalan

Adopsi Hutan dan Cerita Tentang Kawasan Ekosistem Leuser

Adopsi Hutan dan Cerita Tentang Kawasan Ekosistem Leuser

Menyimak secara langsung tentang adopsi hutan yang telah dijalankan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) adalah hal yang baru bagi saya karena sebelumnya tak pernah tahu bagaimana wujud programnya dan implementasinya di kawasan hutan seluas 2,6 juta ha itu.

Banyak yang ingin ditanyakan, banyak yang ingin diungkapkan, bahkan keinginan untuk jalan-jalan di hutan Leuser  spontan muncul, sampai-sampai durasi yang terlalu sempit dan tak mampu menampung sisa celoteh tentang hutan itu telah membatasi kami untuk sekadar memuaskan sekali lagi rasa ingin tahu itu.

Hal yang menyenangkan adalah saat orang seperti saya yang tak pernah menginjakkan kaki di hutan akhirnya seakan bisa ikut merasakan keseruan dan kegembiraan dalam mengenali seluk beluk hutan. Apalagi saat narasumber membeberkan perjalanan awal masuk kawasan Leuser melalui desa Ketambe, Aceh Tenggara dengan warganya yang dilukiskan hangat dan ramah itu. Sebuah perjalanan yang mengesankan dan tak terlupakan nampaknya karena acara kemah dan memancing ikan di tepi sungai sukses membuat saya ingin mencicipi juga rasanya.

 

Adopsi hutan dan cerita tentang kawasan hutan Leuser
Bersama teman-teman blogger

 

Cerita yang dipaparkan tentu saja mengundang kekaguman, keceriaan, keprihatinan sekaligus kelegaan luar biasa dari siapa pun yang mendengar ihwal tentang Leuser yang tetap lestari. Dan peristiwa itu terekam di acara Online Blogger Gathering “Melestarikan Hutan lewat Adopsi Hutan” yang terselenggara berkat kerjasama antara Blogger Perempuan dengan Hutan Itu Indonesia dan dihadiri oleh 30 blogger secara daring melalui fasilitas Zoom.

 

online blogger gathering adopsi hutan

Ketika Adopsi Hutan Hadir di Kawasan Ekosistem Leuser

Perbincangan yang baru berlangsung setengah jam itu nampaknya makin hangat saja karena ulasan dan paparan dari para narasumber telah berhasil menggiring alam pikiran saya ke pedalaman hutan nun jauh di daerah Aceh sana, yakni ke Kawasan Ekosistem Leuser tepatnya, lengkap dengan permasalahan dan solusinya.

Lewat penuturan salah satu narasumber yakni Bang Irham tentang pentingnya menjaga hutan, adopsi hutan memang layak dikedepankan sebagai suatu program yang mampu memberi manfaat langsung bagi warga yang berdiam di sekitar hutan.

Adopsi hutan dan cerita tentang kawasan Leuser
Tiga narasumber, searah jarum jam: Irham, Satya Winnie, dan Tian

Sebenarnya sesi yang paling menarik bagi saya pribadi adalah ketika narasumber cantik sekaligus influencer blogger, Satya Winnie membagikan pengalamannya mengunjungi Kawasan Ekosistem Leuser. Mata jadi segar menyaksikan berbagai keanekaragaman hayati yang terhampar di sana. Indah dan cantik. Tak hanya tentang flora dan faunanya yang unik, kita juga diajak untuk lebih mengenali alam dengan cara menyusuri hutan, minum air segar langsung dari sungai dan berkemah di tepiannya. Ini juga menjadi salah satu program susur hutan yang dijalankan oleh warga setempat dan berhasil baik. Menyenangkan sekali mendengarnya, bukan?

Wawasan saya tentang hutan menjadi bertambah karena selain memiliki fungsi-fungsi normatif, rupanya hutan juga bisa menjadi tempat pembelajaran dan kontemplasi. Tempat di mana kita bisa lebih mengagumi kebesaran Ilahi sekaligus mengamini bahwa alam hutan yang sebegitu luasnya ini dapat terjaga dengan baik berkat tangan-tangan relawan yang memiliki kepedulian besar, terutama soal adopsi hutan.

Dampak Positif

Kepedulian yang sangat solid terlihat saat narasumber kedua sekaligus wakil dari Forum Konservasi Leuser  (FKL) Bang Irham Hudaya Yunardi memaparkan berbagai upaya demi terwujudnya kelestarian hutan salah satunya melalui pendirian stasiun penelitian Soraya yang berdampak positif bagi kehidupan para penghuni hutan di Kawasan Ekosistem Leuser.

 

Adopsi hutan dan cerita tentang kawasan ekosistem leuser
Sumber: Forum Konservasi Leuser

Sementara itu para relawan yang berasal dari FKL dan peneliti lain tetap bersemangat pula untuk memantau. Bahkan saat pandemi seperti sekarang ini justru mereka lebih mengintensifkan patroli hutan yang dilaksanakan oleh para Ranger FKL karena disinyalir akan banyak bermunculan perambah-perambah liar.

Mereka juga melakukan pengecekan fenologi yakni memeriksa tumbuhan mulai dari daun muda, bunga dan buah yang dapat menghasilkan pakan hewan sehingga bisa diperkirakan kehadiran hewannya untuk diamati. Terus terang ini adalah aktivitas yang terbilang baru saya ketahui dan keren sekali di mata saya.

 

“Hutan kita tidak sedang baik-baik saja saat ini…”

– Tian  

Meskipun ada nada prihatin yang dilontarkan oleh Mas Tian dari Hutan Itu Indonesia, sebenarnya hutan kita masih yang terbesar nomor tiga di dunia. Hutan Indonesia masih lestari, cukup lebat dan tetap eksis berkat penggalangan adopsi hutan serta banyaknya relawan, warga dan peneliti yang terjun langsung untuk menangani hutan tersebut, salah satunya lewat stasiun penelitian Soraya dan Ketambe.

Adopsi hutan dan cerita tentang kawasan ekosistem leuser

Jaga Hutan

Banyaknya pemerhati, relawan yang melakukan pemantauan dan penelitian baik di Soraya maupun Ketambe Aceh, menandakan bahwa hutan kita dijaga, dirawat dan dimengerti. Kekhawatiran kita akan pembalakan liar dan perambahan hutan demi perkebunan kelapa sawit misalnya setidaknya makin berkurang ketika menyaksikan Kawasan Ekosistem Leuser yang tetap terjaga sampai saat ini.

Meskipun di masa pandemi ini ancaman untuk merusak hutan dari warga sekitar makin intens, namun setidaknya kehadiran patroli hutan yang berdedikasi cukup melegakan. Salut pada mereka!

Dan untuk menambah rasa optimisme,  meskipun banyak aktivitas yang merugikan, ternyata hutan kita tetap masih yang paling luas. Empat kalinya wilayah negara Jepang lho. Ini tidak main-main. Artinya ada beban di pundak untuk sama-sama melestarikan agar anak cucu kita (semoga) masih bisa menikmati udara bersih, masih bisa menyaksikan flora dan fauna yang menakjubkan seperti harimau, badak, gajah Sumatra, orang utan, burung rangkong dan bunga Rafflesia. Dan tentu saja akan banyak orang kota yang berpeluang untuk terus ikut tur menyusuri hutan.

***

Gathering yang membuka wawasan ini akhirnya toh harus berakhir juga. Dua jam tanpa terasa dan berhasil  meninggalkan impresi tersisa. Ada sejumput kesan tersendiri buat saya yang baru mengetahui kondisi hutan Indonesia yang sebenar-benarnya langsung dari narasumbernya. Adopsi hutan bisa saja mandek di tengah jalan namun yang utama dan terus dipupuk adalah kepedulian manusia terhadap alamnya.

“Study nature, love nature, stay close to nature, it will never fail you”

-Frank Lloyd Wright

Manusia dan hutan harus seiring sejalan dalam menangani kemelut hutan karena sejatinya semua saling berhubungan dan bergantung. Tidak ada waktu yang lebih baik kecuali saat ini untuk menjadikan alam ini sebagai titik pusat dari kehidupan kita. Kita tetap optimis bahwa hutan kita masih ada sampai generasi-generasi berikutnya  lalu meneruskan upaya kita. Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melindungi hutan Indonesia.

 

Sumber:

Narasumber masing-masing dalam Online Blogger Gathering

Sumber foto:

-Mongabay Indonesia, Laporan RAN: Pembukaan Lahan Seluas 245 Hektar Terjadi di Kawasan Ekosistem Leuser

-Forum Konservasi Leuser (Instagram)

8 thoughts on “Adopsi Hutan dan Cerita Tentang Kawasan Ekosistem Leuser”

  1. Hutan kita tidak sedang baik-baik saja, begitulah mestinya kita berpikir ya Kak. Agar kita makin peduli pada kesehatan dan kelestarian mereka. Toh itu memengaruhi kehidupan kita juga. Semoga lewat online gathering begini makin banyak yang peduli terutama lewat tulisan yang mencerahkan.

  2. memang bener kata kak Tian, kl hutan kita sedang tidak baik2 aja. semoga adanya program adopsi hutan ini bisa membantu menjaga hutan Indonesia tetap lestari ya kak. btw, acaranya seru banget kemarin 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *