cerita dari kantor

Hot Desk versus Kantor Sepi

January 15, 2020
Hot Desk versus Kantor Sepi

Bagaimana rasanya bekerja dengan suasana hiruk pikuk dan lalu lalang orang di depan meja kita? Apakah terganggu, cuek saja atau merasa senang karena bisa sambil melihat keadaan di sekitarnya?

Hot Desking

Memang zaman sekarang ruang kantor untuk para staf banyak yang didesain dengan konsep terbuka. Maksudnya kita bekerja tanpa ada batas, tak ada kubikel, tidak ada partisi dan tidak ada privasi. Gerak-gerik kita seluruhnya akan terlihat mulai dari wajah, tangan, tumpukan kertas yang menggunung plus alat-alat tulis yang berceceran di atas meja.

Pernahkah terpikir bahwa ruang kerja yang demikian justru malah membuat kita jadi kurang fokus? Alih-alih mendapatkan ilham, ide, atau pencerahan dari orang-orang yang mampir di meja, kita justru merasa lelah dan tersedot energinya karena harus mengeluarkan beberapa kalimat alias mengobrol atau sekadar mendengar pembicaraan yang lewat.

Iya kalau ngobrolnya bermanfaat tapi kalau cuma ngalor ngidul dan membahas gorengan saja rasanya kok terbuang sia-sia saja energi ini. Di era start-up seperti sekarang sistem kantor yang bernama hot desking telah menjadi tren karena efisien, mampu memberi rasa bebas baik dalam penggunaan meja dan kursinya, ruang gerak yang aktif, tidak terikat untuk duduk di satu tempat saja dan mampu memberi energi kreatif bagi karyawannya.

Hasil Berlawanan

Sistem seperti ini bukan tak ada sisi gelapnya. Menurut Christopher Walsh, seorang peneliti keuangan di sebuah start up MoneyHub, ide pemakaian ruang kantor dengan menghilangkan partisi dan menyediakan meja luas dan panjang demi lebih mengefisienkan tempat dan menumbuhkan ide kreatif malah justru menampakkan hasil yang berlawanan.

Alih-alih lebih hemat dalam berinteraksi langsung (face to face), karyawan justru lebih memanfaatkan internet yang ada di hadapannya, alias lebih terpaku. Karyawan merasa seperti robot yang dikendalikan dari jarak jauh, kadang tidak fokus, mudah terganggu baik melalui suara dan gerakan anggota tubuh orang lain.

Entah kenapa, karyawan cenderung untuk saling berkomunikasi melalui pesan singkat atau surat elektronik saja. Padahal mereka sudah bertatap muka dan tahu keberadaan masing-masing.

Kalau di Jakarta atau di kantor saya, kami pasti lebih memilih berteriak-teriak di ruangan itu, meminta rekan untuk segera membaca surat elektronik atau membalas WhatsApp bila responsnya lama. Dan ini memang mengganggu, sungguh. Meskipun untuk berkomunikasi kami bisa juga melalui Slack sebenarnya.

Ya mau dibilang apa bila kenyataannya kita sebagai karyawan yang sudah diterima bekerja lalu akhirnya ditempatkan di ruangan dengan sistem hot desking alias berbagi meja. Padahal mungkin saja ada yang berjiwa bebas, cuek atau berkepribadian tertutup yang mau tak mau harus ikut lebur dalam satu meja besar, luas dan panjang. Pasti harus adaptasi dulu.

Nasib si Introvert

Beberapa pasti akan merasa jengah, ada yang masa bodoh atau tak ambil pusing dengan kegiatan di kiri kanannya. Era memang sudah berubah. Dan manusia selalu ingin meningkatkan keefisienannya dalam banyak hal termasuk penyediaan ruang kantor ala start up.

Ada yang menyarankan untuk dikerjakan di rumah saja untuk mengurangi ketegangan dan keriuhan

Laurent Taskin, penulis Studi Belgia

Sistem ruang kantor seperti ini bagi introvert adalah hal yang sulit. Alih-alih ingin berada di ruangan yang memiliki sekat dan tersembunyi, ia harus dipaksa untuk menghadapi ketakutannya yaitu berhadapan dengan bermacam-macam karakter.

Bila si introvert ini mampu bertahan maka selamatlah ia namun jika tidak, kondisi seperti itu harus dikomunikasikan oleh pihak perusahaan. Syukur-syukur diminta bekerja secara remote alias di rumah saja.

Lalu bagaimana cara agar tidak terganggu dari kebisingan dan lalu lalang orang lain? Beberapa kantor di luar negeri memberikan solusi yang inovatif yakni memasang panel akustik di dinding dan menyediakan perabot lembut guna menyerap kebisingan.

Bahkan WeWork sendiri telah menerapkan ruang kantor yang disesuaikan dengan nafas dan keinginan para penyewanya serta membagi area-area tertentu seperti ruang khusus untuk tim yang berkolaborasi, tim privasi, tim yang cenderung fokus, atau tim yang tidak mau diganggu apa pun demi sukses dan kelancaran dalam bekerja.

Pada dasarnya sebuah kantor adalah menjadi rumah kedua bagi karyawannya. Bila penghuninya tidak merasa betah, perusahaan wajib untuk memberikan rasa nyaman dan tentram. Perusahan harus memutar otak bagaimana agar seluruh keluhan dari sebagian karyawan itu diminimalisir.

Dengan menggandeng desainer ruangan kantor misalnya, perusahaan bisa saling bekerja sama untuk mencari solusi agar karyawan betah bekerja baik yang ada di hot desk atau yang lain. Menjadi sebuah tantangan apabila permintaan dari sekian banyak jenis karyawan itu mampu diwujudkan.

Jadi, lebih suka yang mana, ruangan yang ramai alias hot desk atau sepi?

Silakan komentar

%d bloggers like this: