ada apa dengan negeri ini? kesehatan

Kehidupan Normal yang Baru Bagi Saya

Kehidupan Normal yang Baru Bagi Saya

Sampai hari ini saya sudah hidup di dalam rumah saja selama 2,5 bulan terhitung sejak pengumuman pertama kali yang diperintahkan untuk berada di rumah pada 16 Maret 2020. Setelah itu perlahan tapi pasti saya banyak mengalami perubahan-perubahan besar yang mengiringi periode ini.

Sungguh sangat besar pengorbanan diberikan demi menghalau Corona ini pergi. Banyak hal yang diterapkan dan menjadi pengalaman baru buat saya. Dan salah satunya adalah ke mana-mana harus memakai masker. Sebelumnya saya paling tidak suka untuk memakai masker. Mau pergi naik motor atau berada di tengah kerumunan misalnya di KRL  pun saya gak peduli dan malas untuk memakainya. Makanya saat masker langka dan harganya membumbung tinggi, saya gak terlalu panik atau cemas, biasa saja menanggapinya.

(Baca: Social Distance, Dampak Covid19 Bagi Kita)

Di mana-mana akhirnya saya akan bertemu orang lain yang selalu memakai masker kain. Saat berjalan keluar dan bertemu tetangga kita hanya akan menatap kedua matanya untuk menerka-nerka mimik wajah bagaimana yang sedang ia tampilkan. Apakah sedang tersenyum atau berwajah datar saja.

 

 

Di mana-mana akan selalu tersedia area cuci tangan, ruang semprot desinfektan atau ukur suhu. Di mana-mana kita merasa setengah parno tapi setengah menerima kondisi tersebut. Mau tak mau kita harus mengikutinya. Apalagi PSBB masih terus diperpanjang.

(Baca: Menjalani PSBB Alias Masih di Rumah Saja)

Sekitar rumah pun menjadi bagian yang tidak luput dari kebiasaan baru atau kenormalan baru. Setiap mulut jalan atau gang selalu dipasangi portal dan tak boleh sembarang orang memasuki wilayah. Walhasil, lingkungan di sekeliling rumah menjadi zona aman sekaligus sepi. Tak banyak lagi pedagang atau orang lain yang melintas. Tak boleh lagi orang berkumpul, berkerumun. Bila ketahuan, langsung dibubarkan. Suasana menjadi lebih hening, tenang dan tidak berisik, mute.

Warung-warung pun tak luput dari kenormalan baru. Beberapa warung makan tak lagi menyediakan bangku makan alias pembeli harus membeli makanan untuk dibawa pulang. Setiap beberapa waktu akan terdengar sirine mobil satpol untuk menertibkan indikasi kerumunan di tempat tinggal.

Ini sesuatu yang awalnya aneh namun menjadi hal keseharian hingga akhirnya diterima sebagai kebiasaan baru. Perubahan baru yang entah kapan bisa berakhir. Selama vaksin corona belum ditemukan, kita akan selalu bersikap begini.

Saya sendiri menyikapinya dengan pasrah. Sudah dua bulan lebih berlangsung seperti demikian dan tak tahu kapan berakhirnya. Selama penantian panjang ini saya hanya membekali diri dengan makan, minum, istirahat dan berpikir sesuai standar kesehatan yang sering didengung-dengungkan oleh pemerintah. Bagaimanapun kita harus bertahan dan mampu melewatinya.

Dengan segala perubahan yang mendadak dan berlaku terus menerus menjadikan aktivitas ini menjadi sesuatu yang normal. Cara pandang kita pasti sudah berbeda seandainya Corona ini telah berlalu. Kita akan selalu menjaga jarak di mana pun kita berada. Pemakaian masker akan terus dilakukan di tempat yang penuh kerumunan. Kita masih parno tapi perlahan-lahan akan membuka diri.

Bahkan saat itu mungkin  bagi kaum hawa pembelian lipstik menjadi urutan kebutuhan yang kesekian.

Dan yang jelas, kehidupan tidak akan pernah sama lagi. Bagaimana pun kita harus menjalani hari demi hari. Janganlah kita berencana terlalu muluk, karena sebenarnya ini semua serba tak pasti. Meskipun Jokowi atau para ahli memprediksikan Corona berakhir pada bulan tertentu, saya pribadi cenderung tidak mempercayainya karena dunia pun juga tak tahu kapan persisnya Corona ini pergi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *