lomba traveling

Kilau Zamrud Papua dan Ancaman yang Mengintai

Kilau Zamrud Papua dan Ancaman yang Mengintai

Apa yang terlintas dalam benak ketika mendengar salah satu pulau bernama Irian Jaya tiba-tiba berubah nama menjadi Papua? Ketika presiden RI ke-4 yang bernama Gus Dur mengganti nama pulau yang berada di paling timur Nusantara itu, apakah kita merasa aneh, bingung atau bertambah asing di telinga? Gambaran demikian memang tidak mengherankan.

Banyak dari kita yang merasa bingung mengapa Gus Dur akhirnya mengubah Irian Jaya (nama pulau yang sudah saya kenal sejak duduk di bangku SD) menjadi Papua. Kalau mengingat perjalanan panjang dan perjuangan sebuah pulau bernama Irian atau Papua, hal itu bukan sesuatu yang tiba-tiba.

 

Dibandingkan nama Irian (dari bahasa Arab yang artinya telanjang) sebutan Papua memberikan citra yang membangkitkan dan diharapkan mampu mengangkat harkat dan martabat masyarakat Papua agar bisa lebih sejajar dengan rakyat sesama bangsa Indonesia lainnya dalam hal apa pun terutama pembangunan infrastruktur, laju modernisasi serta pola pikir.

Terbukti setelah menyandang nama baru, derap langkah pembangunan kian meningkat terlebih di era pemerintahan periode ini. Papua menjadi titik pertaruhan untuk menjadikan dareah ini semakin sejajar kemajuannya dan agar tidak jauh tertinggal dengan daerah lain.

Pembangunan proyek jalan Trans Papua yang menghubungkan Papua Barat dengan Papua adalah salah satu yang bisa disebutkan sebagai maha karya cemerlang demi mengurangi kesenjangan pendapatan perekonomian rakyat Papua serta menghapus ketertinggalan dalam mengadopsi budaya modernisasi yang cepat dan praktis.

 

Jembatan Youtefa

Namun dengan berbagai pembangunan yang terus dikebut tetap saja orang masih merasakan ketertutupan dari negeri yang dijuluki Bumi Cendrawasih ini. Selama ini Tanah Papua terasa jauh dan sama-samar untuk diketahui keberadaannya. Malah yang sering terdengar hanyalah berita-berita miring yang memberikan citra negatif. Sebagai salah satu warga Indonesia yang belum pernah menginjakkan kaki di tanah Papua, saya sendiri kerap mendengar berbagai berita yang kadang tidak akurat sehingga menjadikan kita yang tak tahu semakin bertambah ketidaktahuannya dan menyurutkan langkah untuk berkunjung ke Papua.

Selain itu terdapat juga sisi lain dari semaraknya pembangunan yaitu adanya pembukaan lahan besar-besaran yang mengakibatkan beberapa sumber kekayaan alam berubah drastis dan terkikis habis.

Padahal, bumi Cendrawasih ini sesungguhnya sangat rupawan. Ditunjang oleh alamnya yang eksotis, dengan komposisi hutan dan salju di pegunungannya, makin membuat orang dari luar terheran-heran dengan dualisme alamnya. Hutan yang menutupi Papua menjadi satu-satunya pewaris tunggal bagi terciptanya paru-paru dunia. Setelah berkurangnya hutan Sumatera dan Kalimantan, rimba Papua menjadi tumpuan harapan kita semua.

Papua selalu identik dengan bentangan alamnya yang luas, kompleks dan memiliki potensi wisata yang cukup mencengangkan. Stigma tentang Papua yang menakutkan bagi kaum pendatang dan cara hidup sebagian penduduknya yang unik justru membuat saya penasaran ketika sepupu saya yang tinggal di sana menceritakan kehidupan yang menarik selama di Papua. Dari dialah saya akhirnya sering mendengar kisah-kisah lain yang mampu membuat pandangan terhadap papua berubah.

Lutfie adalah sepupu saya yang kini menetap di kota Jayapura. Saya pernah bertanya kepadanya apa yang ia lakukan saat merasa sedang jenuh berada di Papua. Katanya ia senang jalan-jalan dan semenjak tinggal di Papua trekking telah menjadi hobi barunya. Kesukaannya terhadap penjelajahan alam mengantarnya pada tempat-tempat yang penuh dengan ranah hijau.

Menjelajahi hutan yang menurutnya masih sangat lebat dan rapat adalah hasrat dan kejutan baru yang ia temukan saat itu. Hutan rindang, sejuknya alam, flora dan fauna yang unik membuat sepupu saya ini merasa nyaman sekaligus prihatin ketika banyak ditemui hutan yang akan berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.

 

Menurutnya, hutan Papua adalah benteng terakhir yang harus dijaga dan dirawat karena fungsi dan manfaatnya yang besar bagi anak cucu sehingga bila harus berubah semua menjadi lahan konsesi, dampaknya akan terasa hingga ke seluruh dunia.

Mendengar penuturan sepupu saya tentang alam yang masih asli dengan kesejukannya yang masih di atas rata-rata, menyadarkan saya bahwa Papua itu Indonesia. Papua merupakan bagian integral dari Indonesia, pulau yang penuh dengan keragaman budaya, alamnya yang spesifik baik flora maupun fauna serta etos kerja penduduknya yang unik. Tak ada yang bisa memungkiri bahwa Papua masih memiliki satu andalan yang menjadi kelebihannya yakni hutan.

Hutan atau rimba bagi warga Papua adalah bagian terdekat dan menjadi nafas kehidupan masyarakat adat yang berada di lingkungannya. Di antara keduanya terjalin ikatan yang kuat. Rimba menjadi wadah inspirasi budaya bagi orang Papua yang mendiami lembah maupun puncak gunung di Tanah Papua. Kini dengan kondisi tutupan hutan yang hanya tersisa seluas 41,3 Ha (2018), kita seakan berkejaran dengan waktu yang semakin sempit untuk memberdayakan kembali hutan rimba saat ini.

Kita sadar hutan Papua adalah salah satu sumber ekosistem terbesar tak hanya bagi Indonesia tapi juga dunia. Dengan tugas mulianya sebagai penjaga kestabilan iklim regional dan global, rimba Papua memiliki keistimewaan yakni menjadi penopang utama kehidupan orang Papua yang nyaris menggantungkan hidupnya pada hutan rimba.

 

Akibat deforestasi baik di wilayah Papua Barat dan Papua, hutan rimba tercerabut dari kedudukannya sebagai rumah bagi sejumlah hewan endemik dan flora. Sebegitu pentingnya hutan bagi masyarakat Papua, mereka pun bahu membahu untuk memberikan kontribusi agar hutan menjadi berdaya dan mampu bertahan lama.

Untuk memberi gaung yang lebih besar, EcoNusa selaku organisasi nirlaba yang memfokuskan diri dalam mengelola sumber alam Papua telah berupaya banyak untuk memberdayakan masyarakat adat dan menyuarakan segala jeritan hati alam Papua yang mulai kritis agar memperoleh haknya.

Bagi Papua yang wilayahnya sarat dengan alam hijau, program pengelolaan sumber daya alam yang mampu diterapkan oleh semua pihak adalah ekowisata. Bahkan dengan ekowisata ini, masyarakat adat setempat mendapat keuntungan yang bagus secara ekonomi misalnya saja mengajak turis untuk melakukan kegiatan Bird Watching seperti yang dilakukan di kampung Malagufuk, Sorong Papua Barat.

Di sini turis diajak menyusuri hutan ditemani pemandu lalu mengamati burung-burung yang bertenggerdi dahan pohon. Jika beruntung mereka akan menyaksikan indahnya bulu burung khas Papua, Cendrawasih yang dengan elegannya berada di salah satu pohon. Diharapkan kegiatan ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan dan dapat menjadi sarana bagus untuk mengenal hutan. Dan bagi masyarakat setempat kedatangan turis akan menambah kas desa yang memadai pula.

 

Burung Cendrawasih (Ayobandung.com)

Papua dengan tempat wisatanya, cukup memberi harapan besar akan keberlangsungan alamnya. Tak bisa dipungkiri daya tarik wisata alam yang sudah lebih dahulu terkenal dengan Raja Ampatnya telah membuka jalan bagi objek wisata lainnya semisal kepulauan Misool dan Kali Biru untuk lebih dikenal lagi.

Sebagai pulau yang 90 persen daratannya dipenuhi hutan, tak heran objek wisatanya tak akan jauh-jauh dari alam hijau dan petualangan seperti Taman Nasional, hutan produksi yang berhawa sejuk, air terjun di tepi hutan, dan sebagainya. Lutfie telah merekomendasikan tempat-tempat yang berkesan untuk saya datangi di Papua di antaranya.

Gunung Meja

Baiklah, mana saja tempat yang ingin saya kunjungi? Pertama adalah Gunung Meja yang terletak di Manokwari. Ya, memang namanya seperti itu karena di sana ada gunung yang wujudnya menyerupai sebuah meja. Meskipun namanya sama dengan tempat wisata di Cape Town Afrika Selatan, percayalah Gunung Meja versi Papua ini tak kalah menakjubkan pula.

Tempat wisata ini terletak di kawasan Hutan Wisata Gunung Meja dan jaraknya dari kota Manokwari ini sekitar 2 kilometer saja. Mengapa tempat ini menarik, karena areanya yang seluas 460 Ha merupakan hutan tropis. Sembari rekreasi mata kita dimanjakan dengan hijaunya hutan yang masih lebat dan teduhnya suasana. Kabarnya di tempat ini ada pohon yang khas dan hanya bisa tumbuh di wilayah Timur seperti Sulawesi, Pulau Seram dan Papua. Namanya pohon Pelangi dan tingginya mencapai 40 meter. Seperti halnya pelangi, batang pohon ini memang berwarna-warni malah kadang hijau loreng.

Gunung Meja (backpackerjakarta.com)

Air Terjun Sasnek

Di Papua Barat selain Gunung Meja, tempat yang membuat penasaran untuk dikunjungi adalah air terjun Sasnek. Wisata alam ini menawarkan sensasi air terjun yang mampu membuat kita terkesima karena letak air terjun ini berada di tengah-tengah hutan rimba tropis dan berada di kampung Sasnek distrik Sawiat, kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat.

Air Terjun Sasnek (IG: pace_kribo)

Alam hutan tropis yang hijau ditopang air jernih yang terjun dari ketinggian 20 meter sukses membuat mata, hati, dan pikiran yang penat akan kembali segar. Berjarak sekitar 2,5 jam perjalanan dari kota Sorong, di sepanjang jalan menuju air terjun kita akan saksikan hewan langka dan tumbuhan unik di sana.

Kali Biru

Inilah tempat wisata memukau yang pernah diceritakan oleh sepupu saya. Semua pasti sudah tahu daya tarik Kali Biru ini. Air sungai yang kadang berwarna hijau toska namun dominan berwarna biru kristal ini mampu memikat mata dan hati para pelancong yang hendak mengunjungi wilayah Raja Ampat. Sungai ini terletak di wilayah Teluk Mayalibit, Papua Barat.

Sebenarnya saya penasaran justru pada perjalanan untuk menuju ke sungai ini. Ya, untuk ke sungainya kita membutuhkan setengah jam berjalan kaki menyusuri hutan yang masih asli. Banyak yang berkomentar bahwa pemandangan hutan di kiri-kanan mulai dari muara sungai tempat kapal bersandar hingga ke sungai itu sangat indah, tenang dan adem.

Bahkan setelah kita menyusuri hutan, air sungai yang berwarna biru itu pun serasa menjadi obat lelah paling manjur  untuk dipandang. Apalagi jika duduk di tepiannya sembari meneguk segelas air dingin yang kabarnya bisa langsung diambil dari sungainya, semakin lengkap rasanya berpetualang ke Kali Biru ini.

 

Kali Biru (IG:lesgoyuk)

Desa Wisata Tablanusu

Melihat foto-foto yang ditunjukan Lutfie rasanya ingin sekali ke sana. Tempatnya unik, alami, eksotis dengan batu koral hitam di setiap daratan tempat itu berada. Di desa wisata atau di pantai batu koral tersebar merata. Selayaknya pantai, tempatnya memang memenuhi syarat untuk tersedianya sebuh pantai. Ada air laut, ombak pantai, gazebo dan jejeran nyiur melambai diterpa angin laut. Desa wisata ini menarik karena memiliki paket wisata yang lengkap yang terdiri dari wisata hutan, sejarah dan budaya.

Desa Tablanusu (Merdeka.com)

Wisata hutannya menarik karena di sana kita akan temukan bermacam flora dan fauna endemik. Laut yang tenang, angin bertiup pelan, bebatuan koral yang berserak menjadi bagian yang tak akan terlupakan di tempat ini. Untuk sampai ke sana kita harus berkendara dahulu sejauh 33 kilometer dari Jayapura ke Sentani. Selanjutnya dari Sentani ke Dermaga Depapre yang bisa ditempuh selama 2 jam dengan kendaraan sewaan. Dari dermaga ke Tablanusu naik kapal motor selama 20 menit. Untuk wisata hutannya kita bisa menjalaninya ditemani pemandu dari desa Tablanusu.

Pantai Tablanusu ini merupakan tujuan wisata yang memberi ruang menjelajah yang lengkap. Kita bisa berenang, menyelam, duduk santai di tepi pantai, mengunjungi desa wisatanya, mengamati sejarah atau menjelajahi hutan.

Hutan Mangrove Klawalu, Sorong

Sebaiknya saat ke Papua sempatkan juga untuk mengunjungi hutan unik lainnya karena selain memiliki fungsi mulia yaitu mencegah abrasi pantai, berwisata ke wilayah Sorong tak hanya ke Raja Ampat saja namun ada destinasi wisata lain yang tak kalah indahnya yaitu Hutan Mangrove Klawalu. Berada di jalan Malibela kilometer 12 tempat ini didesain sangat menarik karena gang-gang untuk melintasi hutan mangrove ini berbentuk daun yang mencerminkan simbol hijau dan hutan itu sendiri. Meskipun sebagian besar berupa tanaman bakau tapi ada juga tanaman lain.

Hutan Mangrove Klawalu (lifestyle Sindonews.com)

Sesungguhnya hutan mangrove tak hanya berada di Sorong. Banyak hutan mangrove lain yang ditemukan di wilayah pesisir pantai selatan Papua Barat. Salah satunya berada di desa Kambala, kabupaten Kaimana, Papua Barat. Di tempat ini bisa didapati aneka jenis mangrove seperti Avicennia sp, Sonneratia sp dan Rizhopora sp yang dimanfaatkan warga sebagai kayu bakar. Ekspedisi Mangrove Tanah Papua 2019 yang baru lalu telah berhasil memetakan beberapa ekosistem hutan bakau serta pemanfaatannya.

***

Ternyata Papua tidak seburuk yang digambarkan orang dan yang selama ini saya dengar. Papua dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah menawarkan sisi lain yang sangat menawan terutama spot wisata dan keragaman alamnya yang sangat menakjubkan.

Lutfie sukses membuat saya terpana dengan tempat-tempat yang baru saja ia tunjukkan. Dan ternyata di setiap wilayah, hutan yang rimbun dan lebatlah yang selalu menjadi primadona. Pantaslah bila hutan Papua menjadi destinasi hijau yang menawarkan pesona unik dan banyak pelancong yang ingin mengulang lagi kunjungannya.

Ada pepatah China yang berbunyi:

Waktu terbaik menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu dan waktu terbaik kedua adalah hari ini

Maka jelaslah bahwa pemeliharaan serta pengawasan hutan tidak boleh terlambat lagi. Sekaranglah saatnya untuk menjaga dan mempertahankannya. Sebagai bagian dari Indonesia yang dianugerahi alam yang indah, keunikan flora fauna, serta hutan yang menjadi rumah bagi 20.000 spesies tanaman, 125 spesies mamalia, 223 reptil dan 602 jenis burung yang hidup di provinsi Papua Barat dan Papua, sudah sepantasnya Papua diberikan privilege lebih banyak lagi menyangkut pelestarian dan pemberdayaan masyarakat adatnya agar hutan Papua tetap eksis hingga akhir zaman.

Sumber Referensi:

  1. EcoNusa
  2. hutanpapua.id
  3. MaCe Papua
  4. backpackerjakarta.com
  5. Merdeka.com
  6. Lifestyle Sindonews.com
  7. Instagram

Infografis:

  1. Freepik.com
  2. Pexel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *